PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Olahraga
erat kaitannya dengan cidera, seperti yang dialami oleh salah satu pemain sepak
bola ( Millard). Millard mengalami cidera lutut yang sangat serius karena takel
dari lawan, ini terjadi di awal musim sepak bola. Pada saat mengalami cidera
Millard berpikir atau merasa karirnya di dunia sepak bola telah berakhir, tidak
mau makan dan pada saat mendapat kunjungan dari tim lawan yang menekelnya,
Millard menolaknya. Millard pun pulih dan bermain lagi, tetapi reaksi setelah
pulih memperlihatkan bahwa Millard terluka secara psikologis. Cidera yang
dialami oleh Millard ini dapat dialami oleh semua atlet, olahragawan, atau
penari atau bahkan pelatih olahraga.
Faktor fisik merupakan penyebab
utama cidera olahraga, tetapi faktor psikologis juga dapa berkontribusi. Faktor
psikjologis mempunyai peran penting dalam masa rehabilitasi cidera. Dengan
demikian perlu dipahami reaksipsikologis cidera dan cara-cara memfasilitasi
masa pemulihan. Selain faktor fisik yang dapat menyebabkan cidera yaitu stres,
adanya kompetisi, penampilan yang buruk, hal ini tergantung atlet dalam melihat
situasi ini. Adanya kecemasan juga dapat membuat cidera, kecemasan dapat
merubah focus atau perhatian dan ketegangan otot. Faktor psikologis tidak hanya
stres yang dapat menyebabkan cidera, faktor kepribadian, riwayat stres, dan
semua faktor yang mempengaruhi proses stres, yang kemungkinannya dapat
menyebabkan cidera.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana cidera terjadi?
2. Apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi cidera?
3.
Bagaimana reaksi psikologis atlet yang mengalami cidera?
4.
Bagaimana peran psikologi olahraga selama masa rehabilitasi?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Bagai mana cidera terjadi
Faktor fisik
sepeti, ketidak seimbangan otot, benturan dengan kecepatan tinggi,
overtraining, dan kelelahan fisik. Adalah penyebab utama terjadinya cidra dalam
latihan dan olahraga. Bagaimana pun juga faktor psikologi
juga mempunyai peran seperti. Telah di identifikasi oleh Rotela dan
teman-teman, faktor
kepribadian, level stress dan beberapa sikap tertentu adalah penyebab
terjadinya cidera. Sebuah penelitian terbaru, hampir 18 % waktu hilang karena
masalah cidera.
1. Faktor
kepribadian
Faktor
kepribadian adalah faktor yang pertama yang berhubungan cidera atlet. Para
peneliti ingin memahami apakah konsep
diri, pengaruh dari dalam-luar dan berpikir keras sangat berhungn dengan
cidera. Atlet yang
mempunyai konsep diri yang rendah mudah terjadi cidera dibandingkan yang
mempunyai konsep diri tinggi. Penelitian terbaru menunjukan bahwa faktor
pesonaliti seperti optimisme, percaya diri, ketabahan dan kecemasan berperan
dalam cidera atlet.
2. Tikatan Stress
Tikatan stress
telah diidentifikasi juga berperan penting dalam cidera atlet. Penelitian
telah membuktikan
hubungan antara tekanan hidup dan tingkat cidera. Pengukuran tingkat stres ini
di fokuskan pada perubahan hidup,contohnya putus cinta, pindah ke kota baru,
menikah atau perubahan status ekonomi. Secara keseluruhan bukti-bukti menunjkan
bahwa atlet dengan
pengalaman tekanan hidup yang lebih tinggi lebih sering cidera dibandingkan atlet dengan
tekanan hidup yang lebih rendah. Sebaiknya para instruktur profesional
sebaiknya memahami perubahan ini, secara hati-hati memonitor dan memberikan
pelatihan hidup secara psikologis.
Penelitian juga telah mengidentifikasi
stress muncul pada atlet ketika cidera
dan ketika di rehabiitasi saat cidera. Contohnya kurannya perhatian,
terisolasi. Teknik management pelatihan stress tidak hanya menolong atlet dan instrutur
lebih efektif secara penampilan tetapi juga mungkin menghindari resiko mereka cidera dan
sakit.
B. Hubungan antara
Stress dan Cidera
Ada dua teori
yang akan menjelaskan hubungan antara stress dan cidera.
1. Perhatian yang tergangu
Satu hal yang pasti adalah bahwa stress akan mengangu
perhatian seorang atlit denga kurangnya perhatian dari sekelilingnya. Contohnya
seorang quaterback dibawah tekanan stress berkemungkinan cidera karena dia
tidak melihat pemain
bertahan lainnya berlari di depanya sehingga off side. Ketika tingkataan
stressnya lebih rendah, seorang quarterback akan mempunyai lapangan yang lebih
luas dari perhatian sekelilingnya dan dapat melihat pemain bertahan lainnya dan mengurangi
resiko cidera
Telah ditemukan juga bahwa peningkatan tingkat kecemasan
disebabkan oleh pikiran, contohnya seorang eksekutif yang melakukan joging pada saat
makan siang setelah bertengkar dengan teman sejawatnya berkemungkinan untuk
terpelosok ke dalam lubang atau kena
cedera keseleo pergelangan kaki.
2. Ketegangan Otot
Stress tingkat tinggi dapat timbul bersamaan dengan
ketegangan otot yang bertentangan dengan kondisi normal dan meningkatkan peluag
untuk cidera. Guru dan pelatih yang berkerja dengan seorang atlet yang
kehidupannya mengalami perubahan (seorang siswa yang orang tuanya bercerai), sebaiknya
sangat memperhatikan sikap atlit tersebut , jika menunjukan tanda-tanda
ketegangan otot atau sulit untuk fokus ketika tampil, adalah hal yang bijak diberikan pelatihan stress.
Psikologi yang lain pejelasan tentang
cidera.
Hal lain yang menyebabkan stress menurut
ahli psikologi adalah beberapa sikap para pelatih, seperti “act tough and
always give 110%” atau “jangan menerima
apa adanya dan selalu memberikan 110%” jika kamu cidera kamu tidak berharga,
sikap-sikap ini berkemungkinan menyebabkan atlet cidera.
1. Act Tough and give 110%
Semboyan atau slogan seperti berusaha keras atau pulang,
tidak sakit tidak ada penghargaan, pergi untuk bertempur adalah
ucapan-ucapan pelatih untuk
menyemangati. Para pelatih memaksa atlit-atlit meraka bekerja keras atau selalu mengambil resiko.
Seharusnya kata-kata ini tidak ditekankan terlalu sering, sehingga atlet siap
mengambil resiko, seperti menekel lawan dalam sepakbola sehingga terjadi cidera.
2. Jika kamu cidera kamu tidak berharga
Beberapa orang merasa tidak berharga
ketika mereka terluka, sikap ini berkembang melalui beberapa hal. Pelatih boleh
menyampaikan, menyadarkan bahwa menang adalah lebih penting di bandingkan
kesejahteraan atlet. Ketika
seorang pemain atau
atlet cidera, tidak memberikan kontribusi untuk menang. Atlet yang cidera
terkadang bernmain sehingga cideranya semakin parah.
C. Reaksi
psikologis atlet yang cidera
Cidera
tidak dapat di pisahkan dari aktifitas fisik, meski pun memiliki staf yang
baik, peralatan yang lengkap, resiko cidera tidak dapat di pisahkan. Ahli
psikologi, pelatih atlet mengidentifikasi beberapa reaksi psikologis akibat
cidera. Cidera dapat diartikan sebagai waktu untuk istirahat dari aktifitas
latihan. Olahragawaan dan instruktur kebugaran harus mengamati beberapa
respon/tangapan dari cidera.
1.
Tanggapan emosioanal
Reaksi
pertama atlet yang mengalami cidera digambarkan seperti akan menghadapi
kematian. Setelah itu megalami reaksi kesedihan yang ditandai dengan lima
tahapan kesedihan:
· Penolakan
· Kemarahan
· Untung atau tidak (menawar)
· Depresi
· Menerima dan menyusun lagi
Atlit yang mengalami cidera
menunjukan reaksi kesedihan, sebagai reaksi emosional, akan tetapi terkadang
tidak mengikuti atau sesuai tahapan di atas. Berikut tiga reaksi secara umum
atlit yang mengalami cidera
· Pengolahan informasi relevan cidera
Atlet yang cidera fokus pada
informasi yang terkait dengan cideranya, kesadaran tingkat cidera, bagai mana
cidera itu terjadi dan konsekuesi negative atau ketidak nyamanan
· Pergolakan emosi dan perilaku reaktif
Atlet menyadari bahwa dia cidera,
menjadi gelisah, bimbang, merasa emosional, terisolasi dan merasa shock, tidak
percaya, menolak dan merasa kasihan/mengkasihani diri sendiri.
· Harapan positif dan penerimaan
Atlet menerima cidera akan memiliki
sikap yang baik dan optimis. Penerimaan atas kondisi cidera ini masing-masing
atlet bervariasi, ada yang dalam sehari dan ada yang berminggu-minggu atau
bahkan beberapa bulan.
2.
Tanggapan yang lain atau reaksi lain
Reaksi
tambahan psikologis atlet yang mengalami cidera, antara lain
· Kehilangan identitas.
Beberapa atlet yang tidak dapat
berpartisipasi karena cidera kehilangan identitas pribadi. Artinya, bagian
penting dari diri mereka hilang, dan mempengaruhi kosep diri.
· Ketakutan dan kecemasan
Ketika cidera, banyak atlet
mengalami ketakutan dan kecemasan tingkat tinggi. Mereka kawatir apakah mereka
akan pulih, apakah akan kembali cidera, apakah seseorang yang mengatikan mereka
permanen dalam lineup. Karena atlet tidak bisa berlatih dan bersaing, ada
banyak waktu untuk kawatir.
· Kurangnya kepercayaan diri.
Mengingat ketidak mampuan untuk
berlatih dan bersaing, dan status memburuk fisik mereka, atlet kehilangan
kepercayaan setelah cidera. Menurunnya kepercayaan dapat berakibat penurunan
motivasi, penurunan penampilan, atau cidera bertambah jika atlet berlebihan
(kurang kepercayaan).
· Penurunan penampilan.
Karena penurunan kepercayaan dan
kehilangan waktu latihan, atlet mengalami penurunan penampilan. Banyak atlet
mengalami kesulitan menurunnya harapan setelah cidera dan mungkin berharap
untuk kembali ke level penampilan sebelum cidera.
3. Tanda
saat cidera
Tangapan orang (atlet) pada saat
cidera menunjukan emosi negatif, namun mereka tidak kesulitan dalam
menghadapinya. Berikut tanda emosional atlet pada saat cidera.
· Perasaan marah dan kebingungan
· Obsesi dengan pertanyaan tentang kapan bisa kembali bermain
· Penolakan (misal, cidera adalah bukan masalah besar)
· Ingin segera kembali dan megalami sebelum cidera
· Berkata berlebihan tentang keberhasilan
· Mengeluh
· Merasa bersalah membiarkan tim terpuruk
· Menarik diri dri orang lain
· Cepat berubah suasana hati
· Pernyataan yang menunjukan bahwa tidak peduli apa yang
dilakukan, pemulihan tidak akan terjadi
Seorang instruktur kebugaran dan
pelatih yang megetahui gejala-gejala ini harus menyarankan untuk di diskusikan
ke psikolog olahraga atau konselor. Dalam hal ini bila ada rekasi tidak normal
akibat cidera sebaiknya di rujuk ke psikolog olahraga.
D. Peran psikologi olahraga dalam cidera dan rehabilitasi
Pemulihan
secara aktif, tidak adanya oprasi dan latihan beban untuk rehabilitasi adalah
salah satu kemajuan dalam rehabilitasi. Psikolog memfasilitasi proses pemulihan
cidera, dan pelatih/instruktur lebih mengunakan pendekatan holistic untuk
menyembuhkan baik pikiran dan fisik. Memahami psikologi pemulihan cidera adalah
sangat penting bagi semua yang terlibat dalam olahraga dan latihan.
1.
Pemulihan Psikologi
Peneliti
melakukan wawancara, menilai sikap dan pandangan, stress dan control stress,
dukungan sosial, positif self-talk, imajinasi penyembuhan, penetapan tujuan dan
keyakinan. Mereka menemukan bahwa atlet penyembuhan lebih cepat yang lebih
mempunyai tujuan dan positif self talk dan, pada tingkat yang lebih rendah
lebih lambat penyembuhannya. Selain itu faktor yang penting dalam proses
rehabilitrasi adalah emosi dan motivasi atlet selama masa rehabilitasi. Atlet
yang mempunyai emosi yang baik dalam hal ini mematuhi peraturan medis selama
proses penyembuhan akan dapat mempercepat proses penyembuhan, motivasi atlet
selama proses rehabilitasi juga mempengaruhi keberhasilan pemulihan.
Penerapan perlakuan dan pemulihan
cidera
Pendekatan holistic adalah yang
disarankan oleh ahli psikologi untuk pemulihan cidera atlet. Berikut
langkah-langkah proses penyembuhan dan pemulihan secara psikologi.
1) Tahap
cidera-penyakit
Membantu
atlet menghadapi pergolakan emosi pada saat cidera.
2) Tahap
rehabilitasi dan pemulihan
Membantu
atlet mempertahankan motivasi dan kepatuhan terhadap aturan rehabilitasi
3) Tahap
kembali ke aktifitas penuh
Kesembuhan
penuh tidaklah lengkap sampai atlet kembali ke keadaan normal dalam
olahraganya.
Di awal
cidera atau fase penyakit, yang harus dilakukan adalah focus pada membantu
menangani pergolakan emosi atlet yang cidera. Atlet mengalami kondisi stress
karena tidak memahami cidera atau kondisi cidera, sehingga dokter perlu member
penjelasamn kaitannya dengan seberapa parah cideranya. Tahap rehabilitasi dan
pemulihan, pada tahapan ini atlet yang mengalami cidera dibantu dalam
mempertahankan motivasi, dan aturan rehabilitasi. Penetapan tujuan dan
mempertahankan sikap positif, terutama pada saat cidera atau kemunduran fisik.
Tahap terakhir adalah kembali pada aktifitas penuh,meskipun secara fisik atlet
sudah sembuh, kesembuhan belum lengkap sampai dia kembali kondisi normal dalam
berolahraga. Selain itu ada beberapa hal penting yang harus dipahami,
memfasilitasi proses rehabilitasi, membangun hubungan dengan atlet yang cidera,
mendidik atlet tentang proses dan pemulihan cidera, mengajarkan ketrampilan
psikologis, mempersiapkan atlet untuk mengatasi kemunduran, membina dukungan
sosial, dan belajar atau mendorong atlet untuk belajar dari atlet lain yang
cidera.
2.
Membangun hubungan dengan atlet cidera
Ketika
atlet cidera, mereka sering mengalami tidak percaya, frustasi, kemarahan,
kebingungan, dan kerentanan. Emosi tersebut dapat menyulitkan bagi penolong
untuk menjalin hubungan dengan yang cidera. Empati adalah membantu, memahami
bagaimana perasaan orang yang cidera. Membangun hubungan, jangan terlalu
memberi harapan dengan pemulihan cepat. Sebaiknya, bersikap positif dan
pendekatan tim untuk pemulihan. Jadi perlunya kebersamaan dalam proses penyembuhan,
sehingga atlet lebih termotivasi dan mempunyai pikiran positif.
3.
Mendidik atlet yang cidera tentang proses dan pemulihan cidera.
Atlet yang
cidera atau pertama kali cidera, biasanya belum paham tentang apa yang terjadi
pada dirinya. Memberikan pemahaman secara praktis dapat membantu atlet memahami
cidera, misalkan atlet gulat cidera patah tulang, seorang pelatih member
penjelasan dengan sebuah tongkat yang di patahkan menyerupai apa yang terjadi
pada atlet. Secara tidak langsung atlet memahami apa yang terjadi atau kondisi
pada dirinya sendiri. Selain itu perlu dijelaskan pada atlet yang cidera waktu
kesembuhannya, misalkan dalam waktu 3 bulan sembuh atau pulih, tidak boleh di
katakan atau di jelaskan dalam 1 bulan sembuh atau pulih, karena hal ini dapat
berdampak pada sikap atlet dan dapat menyebabkan kemunduran pemulihan.
4.
Mengajar ketrampilan psikologis tertentu
Ketrampilan
psikologis sangat penting untuk diajarkan untuk rehabilitasi kaitannya dengan
penetapan tujuan, positif self-talk, imagery/visualisasi dan pelatihan
relaksasi. Penetapan tujuan dapat sangat berguna untuk rehabilitasi atlet yang
cidera. Penetapan tujuan dapat mengurangi waktu pemulihan atlet yang cidera.
Penetapan tujuan ini kaitanya dengan kapan atlet akan kembali ke kompetisi,
berapa kali perminggu untuk terapi, bentuk latihan dan lama latihan. Motivasi
yang berlebih dapat menyebabkan cidera selama masa terapi, karena aktifitasnya
tidak sesui aturan atau melebihi kemampuan atlet.
Self-talk atau kata hati membantu
mengatasi kepercayaan yang turun selama cidera. Atlet harus belajar
menghilangkan pikiran negatif mereka, dan mengantinya dengan yang realistis dan
positif. Misalkan saya tidak akan pernah menjadi baik, di rubah menjadi aku
merasa kecewa hari ini, tapi aku masih pada tujuan rehabilitasi, saya hanya
perlu bersabar dan saya akan kembali.
Visualisasi berguna selama masa
rehabilitasi. Pemain atau atlet yang cidera perlu mengimajinasikan diri mereka
dalam kompetisi, atau kembali berkompetisi. Atau atlet yang cidera ototnya
mengimajinasikan ototnya pulih dengan cepat. Hal ini dapat mempercepat proses
rehabilitasi atlet tersebut. Jadi, mereka yang membantu dalam proses
rehabilitasi cidera perlu mendorong atlet berimajinasi ketika mereka
berpartisipasi/kompetisi dalam olahraga meraka.
Pelatihan relaksasi dapat berguna
untuk menghilangkan rasa sakit dan stress, yang biasanya menyertai pada saat
cidera dan pemulihan cidera. Atlet juga dapat mengunakan teknik relaksasi untuk
memudahkan tidur dan mengurangi ketegangan.
5.
Mengajarkan bagaimana mengatasi kemunduran
Rehabilitasi cidera bukan ilmu yang
pasti. Setiap orang pulih pada tingkat yang berbeda, dan kemunduran hal yang
biasa. Jadi, orang atau atlet yang cidera perlu belajar mengatasi kemunduran.
Memberikan informasi pada atlet selama tahapan rehabilitasi terjadi kemunduran,
dan pada saat yang sama mendorong atlet untuk mempertahankan sikap positif.
Kemunduran adalah normal dan tidak perlu panic, jadi tidak perlu berkecil hati.
Dengan demikian sasaran rehabilitasi perlu untuk dievaluasi dan didefiniskan
ulang secara berkala.
6. Memupuk
dukungan sosial
Dukungan
sosial sangat penting untuk atlet yang mengalami cidera. Dukungan sosial ini
misalkan,dukungan emosional dari teman-teman dan orang-orang terkasih, dukungan
informasi dari pelatih, dalam bentuk peryataan seperti “anda berada di jalur
yang benar”, dan bahkan dukungan nyata, seperti uang dari orang tua. Akan
tetapi dukungan sosial ini cenderung pada saat atlet terkena cidera dan menjadi
kurang saat masa pemulihan atau recovery. Berikut petunjuk pemberian dukungan
sosial:
· Dukungan sosial sebagai suberdaya yang memfasilitasi. Hal
ini dapat mengurangi stres, meningkatkan mood, meningkatkan motivasi untuk
rehabilitasi, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan. Dengan demikian, upaya-upaya
harus dilakukan untuk memberikan dukungan sosial kepada atlet yang cidera.
· Secara umum, atlit beralih ke pelatih dan medis untuk
dukungan informasi dan keluarga dan teman untuk dukungan emosional.
· Jenis dukungan sosial yang dibutuhkan atlet bervariasi di
setiap tahap rehabilitasi. Sebagai contoh di fase cidera, dukungan informasi
sangat penting, sehingga atlet jelas dan memahami cidera yang dialami. Pada
tahap pemulihan diperlukan pelatih yang dapat membantu memotivasi dan mematuhi
rencana rehabilitasi.
· Kebutuhan dukungan sosial terbesar pada saat proses
rehabilitasi lambat, ketika terjadi kemunduran, atau adanya tuntutan hidup lain
kaitannya dengan stress.
· Meskipun umumnya membantu, dukungan sosial dapat memiliki
efek negatif terhadap atlet yang cidera. Hal ini terjadi dimana penyedia
dukungan tidak memiliki hubungan yang baik dengan atlet, tidak memiliki
kredibiltas di mata atlet, atau dukungan keterpaksaan dari atlet lain. Atlet
melihat dukungan sosial bermanfaat ketika jenis dukungan sesuai dengan
kebutuhan mereka dan penyampaian informasi yang baik bagi mereka.
7. Belajar
dari atlet yang pernah cidera
Cara lain
yang baik untuk membantu atlet yang cidera dalam mengatasi cidera adalah dengan
memperhatikan atau mematuhi rekomendasi atlet yang pernah cidera. Berikut
rekomendasi dari atlet SKI AS, untuk atlet yang cidera, pelatih, dan tim medis
olahraga
1)
Rekomendasi untuk atlet yang cidera
· Mepelajari badannya dan menyesuiakan diri
· Terima dan secara positif menghadapi situasi
· Fokus pada pelatihan yang berkualitas
· Mendapatkan dan mengunakan sumber daya medis
· Mengunakan sumber daya sosial bijaksana
· Menetapkan tujuan
· Merasa yakin dengan pelatih dan tenaga medis
· Melatih ketrampilan mental
· Mengunakan imajinasi
· Dan menjaga suasana yang kompetitif dan keterlibatan.
2)
Rekomendasi untuk Pelatih
· Pelatih memelihara kontak dan keterlibtan dengan atlet yang
cidera
· Menunjukan empati positif dan dukungan
· Memahami variasi cidera individu dan emosi saat cidera
· Motivasi dan mendorong secara optimal
· Lingkungan yang berkualitas tinggi, pelatihan individual
· Memiliki kesabaran dan harapan yang realistis
· Jangan mengulangi menyingung cidera pada saat pelatihan
3)
Rekomendasi untuk medis olahraga
· Mendidik dan menginformasikan atlet pada saat cidera dan
rehabilitasi
· Mengunakan motivasi sesuai dan secara optimal mendorong
· Menunjukan empati dan dukungan
· Memiliki kepribadian yang mendukung (menjadi hangat,
terbuka, dan tidak terlalu percaya diri)
· Memelihara interaksi yang baik dan menyesuaikan pelatihan
· Menunjukan kemampuan dan kepercayaan diri
· Mendorong kepercayaan diri atlet