Sabtu, 25 Agustus 2012

Kepribadian Seseorang Melalui Warna Favorit


Ketahui Kepribadian Seseorang Melalui Warna Favorit

Spoiler for Tiada Repost Diantara Kita Gan: 


WARNA apa yang dominan Anda kenakan sehari-hari ? Warna tak hanya sekedar menunjukkan selera atau favorit saja lho, tapi juga menunjukkan kepribadian seseorang.
 http://static.kaskus.co.id/images/smilies/cool2.gif

Penelitian ini telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Ditemukan bahwa warna favorit, atau warna yang paling mendominasi isi lemari mengungkapkan kepribadian seseorang. So, let’s have fun today. Intip warna favorit yang menceritakan soal seseorang yuk!
 

Hitam
Yang menyukai warna hitam cenderung punya pemikiran yang konservatif. dan sangat tahu apa kelebihan diri mereka. Warna hitam juga cenderung membuat mereka ingin tampil seksi dan percaya diri.

Pink
Warna ini cenderung dikenal sebagai warna feminin. Namun di balik girly image-nya, sebenarnya warna ini menyembunyikan kepribadian yang misterius. Jadi, tak benar jika seseorang yang menyukai warna pink adalah sosok yang sangat girly, bisa jadi ia pandai memainkan gayanya.

Merah
Cerdas, berani dan vokal! Mereka sangat suka berada di tengah banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Mereka juga suka berpetualang dan tak suka ditentang.

Biru
Seperti kesan yang didapat dari kejernihan warnanya, Mereka yang menyukai warna biru adalah sosok penyayang dan berjiwa bebas. Mereka percaya bahwa kecantikan dari dalam dirilah yang membuat mereka cantik seutuhnya.

Orange
Warna ini menunjukkan seseorang adalah orang yang tulus, menikmati tantangan dan hal-hal baru. Mereka juga punya ambisi besar serta senang menjadi pusat perhatian.

Kuning
Bagi suka warna kuning, maka kamu adalah orang yang optimis. Suka akan tantangan dan kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga. Anda juga adalah orang yang fleksibel dan punya intuisi yang kuat.

Putih
Warna putih ini dikatakan sebagai warna netral, dan demikian pula dengan yang memfavoritkan warna satu ini. Mereka Cenderung pecinta damai dan tak suka memihak. Selain itu juga termasuk orang yang tenang dan mudah berteman dengan siapa saja.

Hijau
Untuk pecinta hijau, maka tak salah lagi, Kalian adalah sosok pecinta lingkungan. Sekalipun mungkin bukan orang yang terjun di dalam organisasi pecinta lingkungan, namun kalian berusaha menjaga lingkungan sekitar Anda. Anda juga sosok yang keras kepala, namun sekaligus teman yang menyenangkan.

THE LOUNGE - Page 3 - Kaskus - The Largest Indonesian Community

Efek negatif menghidupkan laptop tanpa baterai
Mungkin agan sering mendengar Apa efek negatifnya menghidupkan laptop tanpa baterai,langsung dari jaringan PLN?, Selama ini ada dua pendapat yang sama mempunyai alasan kuat tentang penggunaan baterai laptop.
Spoiler for tanpa battery: 


Ada yang berpendapat bahwa menyalakan laptop menggunakan AC power dengan keadaan baterai terpasang bisa memperpendek usia baterai Jadi sebaiknya baterai dicopot kalo pake AC power. 
Ada juga yang berpendapat bahwa menyalakan laptop menggunakan AC power tanpa baterai terpasang bisa merusak komponen2 elektronik laptop lebih cepat rusak karena listrik dari power supply lebih besar dari yang seharusnya diterima laptop. Jadi sebaiknya baterai tetep dipasang kalo pake AC power. kedua alasan tersebut memang ga ada yang salah.menyalakan laptop dengan baterai bisa membuat baterai tersebut cepat membengkak. tp di sisi lain menggunakan tanpa baterai bahayanya lebih besar.Di bawah ini beberapa dampak negatif menyalakan laptop tanpa baterai.
Spoiler for 1: 
Menyalakan laptop dengan AC power dengan kondisi baterai dicopot dapat mempercepat kerusakan komponen elektronik dalam laptop, karena komponen-komponen tersebut akan menerima tegangan dan arus listrik yang berlebihan.


Spoiler for 2: 
Menyalakan laptop dengan AC power dengan kondisi baterai dicopot tetapi menggunakan stabilisator/UPS sedikit banyak juga dapat mempercepat kerusakan komponen elektronik dalam laptop karena tegangan dan arus listrik akan langsung menuju ke komponen di dalam laptop tanpa melalui penyesuai tegangan (voltage converter) dan sirkuit pengatur (regulator circuit).


Spoiler for 3: 
Kalo listrik tiba2 mati dan laptop anda juga ikut mati mendadak, dan hal itu terjadi beberapa kali efeknya adalah hard disk, ram, processor bisa rusak.


Spoiler for 4: 
sebelum mati listrikpun laptopmu sudah terancam,,, krn kalo listrik tempat kita colokin adapter ga sehat, maka listrik tsb bakal merusak hardware laptop secara langsung, jelas masih mending pasang batreii, krn paling buruk batrei yg ngedrop,,, ketimbang hardware lainnya yg mati...


Melepas baterai hanya untuk bila laptop tidak digunakan lebih dari 3 hari. Baterai juga bisa di lepas jika pemakaian lebih dari 12 jam nonstop, dengan socket listrik yang menempel. Kalo hanya untuk pemakaian sehari-hari sebaiknya memakai baterai, buat menghindari kehilangan data dan kerusakan system apabila listrik mati tiba-tiba. Baterai yang terpasang juga melindungi hardware dan juga modul-modul hardware lainnya dari lonjakan listrik yang ekstrem, misalnya akibat ada petir yang menyambar

Kalo pake make AC power mendingan baterainya tetep dipasang, mending baterainya yang rusak daripada daripada motherboard yang rusak biayanya bisa mahal banget, kalo sampe harus ganti bisa jutaan.kalo banyak uang ya ga masalah tp klo tidak ya tinggal SAY GOOD BYE aja..( jangan ikut2an ketawa ini saya ngomong serius :Parmy:army )

Mungkin saja pada beberapa laptop yang mungkin sudah lebih canggih dalam mengatasi ini misalnya dengan menambah komponen penyesuai tegangan dan sirkuit pengatur pada adaptor laptop mereka. Namun juragan harus benar-benar yakin jika fitur itu benar ada pada laptop kamu. Jika kamu tidak yakin apakah laptop kamu aman jika dinyalakan tanpa baterai silahkan tanyakan ke service resminya. Dan jika kamu tidak yakin sebaiknya tetap nayalakan laptop dalam keadaan baterai terpasang untuk menghindari risiko lebih buruk.

10 Penyakit Akibat Sering Melakukan Seks Bebas - Kaskus - The Largest Indonesian Community

10 Penyakit Akibat Sering Melakukan Seks Bebas - Kaskus - The Largest Indonesian Community

Jumat, 17 Agustus 2012

Mnyambut idul fitri 1syawal 1433 H


Bilih aya luhur saur bahé carék, tutur nu teu kaukur, laku-lampah nu teu merenah dugi ka ngaraheutkeun manah, di bulan nu pinuh barokah ieu hayu urang silih lubarkeun silih hapunten lahir batin, hayu urang mapag 1 Syawal 1433 H ku kabungahan tur kaikhlasan.

Kamis, 16 Agustus 2012

GAYA BELAJAR ANDA, VISUAL,AUDITORI, ATAU KINESTETIK


Gaya Belajar Anda Visual, Auditori, atau Kinestetik ?
Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing2 dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modlaitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.

1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

² Bicara agak cepat
² Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
² Tidak mudah terganggu oleh keributan
² Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
² Lebih suka membaca dari pada dibacakan
² Pembaca cepat dan tekun
² Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
² Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
² Lebih suka musik dari pada seni
² Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

² Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
² Penampilan rapi
² Mudah terganggu oleh keributan
² Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
² Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
² Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
² Biasanya ia pembicara yang fasih
² Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
² Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
² Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
² Berbicara dalam irama yang terpola
² Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

² Berbicara perlahan
² Penampilan rapi
² Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
² Belajar melalui memanipulasi dan praktek
² Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
² Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
² Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
² Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
² Menyukai permainan yang menyibukkan
² Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
² Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Bagaimana dengan gaya belajar Anda?
Wallahu’alam

Rabu, 15 Agustus 2012


MANFAAT DAN MUDARAT OLAHRAGA
Oleh: H.Y.S.Santosa Giriwijoyo
Pendahuluan
Olahraga menyehatkan! Inilah ungkapan masyarakat. Masyarakat meyakini benar manfaat olahraga bagi kesehatan. Tetapi bagaimana olahraga dapat menyehatkan dan berapa berat orang harus melakukan olahraga untuk menjadi lebih sehat? Inilah masalah yang perlu diperjelas bagaimana tata-hubungan antara olahraga dengan kesehatan, bagaimana cara melakukan olahraga untuk kesehatan dan berapa berat olahraga harus dilakukan agar orang menjadi lebih sehat. Perlu diketahui bahwa pada awal abad 21 usia harapan hidup diperkirakan mencapai 70 tahun. Hal ini akan meningkatkan jumlah orang usia lanjut, yang diperkirakan pada tahun 2005 ini mencapai jumlah 19 juta orang atau 8,5% dari penduduk (Dep.Sosial RI.,1996: 1 dan 6). Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, kondisi ini perlu diantisipasi agar para usia lanjut ini tetap sehat, sejahtera dan mandiri, sehingga tidak menjadi beban berat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Mengapa perlu Olahraga.
Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak dan apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.
Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (yang berarti mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (yang berarti meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, gerak (Olahraga) merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya terus-menerus; artinya Olahraga sebagai alat untuk mempertahankan hidup, memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Seperti halnya makan, olahragapun hanya akan dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kesehatan pada mereka yang melakukan kegiatan olahraga. Bila orang hanya menonton olahraga, maka sama halnya dengan orang yang hanya menonton orang makan, artinya ia tidak akan dapat merasakan nikmatnya berolahraga dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dari olahraga bagi kesehatannya.
Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkem-bangan fungsional jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul khususnya pada generasi muda yang aktif mengikuti kegiatan Olahraga dari pada yang tidak aktif mengikutinya (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson: Children in Sport dalam Bloomfield,J., Fricker, P.A. and Fitch,K.D., 1992). Penulis meyakini benar bahwa hal demikian juga berlaku bagi para lansia yang aktif dalam olahraga.
Olahraga Kesehatan
Olahraga Kesehatan adalah Olahraga untuk memelihara dan/ atau untuk meningkatkan derajat Kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (Sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas dalam peri kehidupannya sehari-hari (Sehat dinamis) yang bersifat rutin, maupun untuk keperluan rekreasi dan/ atau mengatasi keadaan gawat-darurat.
Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolahraga : mengundang penyakit. Tidak berolahraga : menelantarkan diri!
Kesibukan, keasyikan dan kehausan dalam kehidupan “Duniawi”, sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi (penyakit bukan oleh karena infeksi), di antaranya yang terpenting adalah penyakit jantung-pembuluh darah (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia madya, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan Olahraga dan/ atau tidak menjalankan pola hidup sehat. Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri ! Bila olahraga sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa rugi manakala tidak dapat melakukan Olahraga, misalnya karena hujan.
Konsep Olahraga Kesehatan adalah: Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massaal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman)! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO! Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitas. Dalam hal olahraganya berbentuk berjalan, maka intensitas berjalannya hendaknya seperti orang yang berjalan tergesa-gesa, tetapi tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menurut Cooper (1994), intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM sesuai umur (Denyut Nadi Maximal sesuai umur = 220-umur dalam tahun).
Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat! Tidak diolah berarti siap dibungkus! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan.
Sehat adalah nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan kemampuan! Karena itu syukurilah nikmat sehat karunia Allah ini dengan memelihara serta meningkatkan derajat sehat dinamis Anda melalui gerak, khususnya melalui Olahraga Kesehatan!
Olahraga kesehatan dapat dilaksanakan secara massaal misalnya : jalan cepat atau lari lambat (jogging), senam aerobik, senam pernafasan dan olahraga-olahraga massaal lain yang sejenis. Senam aerobik sangat baik oleh karena dapat menjangkau seluruh sendi dan otot-otot tubuh, di samping juga merangsang otak untuk berpikir, karena Peserta harus memperhatikan dan segera menirukan gerak instruktur yang selalu berubah tanpa pola, sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat dihafalkan! Bila Peserta sudah hafal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang.
Olahraga Kesehatan memang dapat dilakukan sendiri-sendiri, akan tetapi akan lebih menarik, semarak serta menggembirakan (aspek Rohaniah) apabila dilakukan secara berkelompok. Berkelompok merupakan rangsangan dan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan Sosial, oleh karena masing-masing individu akan bertemu dengan sesamanya, sedangkan suasana lapangan pada Olahraga (Kesehatan) akan sangat mencairkan kekakuan yang disebabkan oleh adanya perbedaan status intelektual dan sosial-ekonomi para Pelakunya. Dampak psikologis yang sangat positif dengan diterapkannya Olahraga Kesehatan adalah rasa kesetaraan dan kebersamaan di antara sesama Pelaku, oleh karena mereka semua merasa dapat dan mampu melakukan Olahraga Kesehatan dengan baik secara bersama-sama.
Sehat dan Kesehatan.
Sehat adalah nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan segala kemampuan. Nikmatnya makan, minum, tidur, serta kemampuan bergerak, bekerja dan berfikir, akan berkurang atau bahkan hilang dengan terganggunya kesehatan kita. Oleh karena itu kita harus senantiasa mensyukuri nikmat sehat karunia Allah ini dengan memelihara dan bahkan meningkatkannya. Tetapi orang sering lupa bersyukur manakala ia sedang sehat dan baru akan menyadari betapa nikmatnya sehat setelah ia menjadi sakit. Manusia memang juga sering tidak tahu bagaimana cara mensyukurinya, maka nabi Sulaeman a.s. berdoa: “Wahai Tuhan kami, tunjukilah bagaimana cara mensyukuri nikmat karuniaMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan ridhailah amal kebaikanku dan ma-sukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih (QS-27: 19).
Olahraga merupakan bagian dari upaya pembinaan kesehatan yang bersifat pencegahan (preventif) maupun peningkatan (promotif) langsung terhadap faktor manusia dan merupakan upaya pemeliharaan kesehatan dinamis yang terpenting, termurah dan paling fungsional (fisiologis), dan merupakan wujud dari pembinaan mutu sumber daya manusia.
Pembinaan mutu sumber daya manusia tujuan utamanya adalah meningkatkan derajat kesejahteraan, menuju ke Sejahtera Paripurna. Sejahtera paripurna adalah sejahtera seutuhnya yaitu sejahtera jasmani, sejahtera rohani dan sejahtera sosial sesuai dengan konsep sehat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengemukakan bahwa: “Sehat adalah Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari Penyakit, Cacat ataupun Kelemahan”. Pencapaian sejahtera paripurna ini dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan sesuai dengan bidang kegiatannya masing-masing. Olahraga membina mutu sumber daya manusia melalui pendekatannya ke aspek jasmaniah; agama membina mutu sumber daya manusia melalui pendekatannya ke aspek rohaniah; sedangkan aktivitas sosial meningkatkan mutu sumber daya manusia melalui pendekatannya kepada aspek sosial. Demikianlah maka setiap kegiatan yang mengandung tujuan pembinaan mutu sumber daya manusia akan selalu melalui pandekatannya kepada salah satu aspek dari ketiga macam sejahtera tersebut. Dalam kaitan dengan hal ini maka Olahraga, khususnya untuk tujuan kesehatan, harus senantiasa diselaraskan dengan tujuan pencapaian Sejahtera Paripurna atau sehat seutuhnya (WHO)!
Mengacu kepada Sejahtera Paripurna sebagai tujuan pembinaan mutu sumber daya manusia, maka tujuan pembinaan-pemeliharaan Kesehatan bagi sumber daya manusia melalui olahraga pada umumnya dan para lanjut usia pada khususnya, adalah memelihara dan/atau meningkatkan kemandirian dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologisnya, yaitu secara biologis menjadi (lebih) mampu menjalani kehidupannya secara mandiri, tidak tergantung pada bantuan orang lain; secara psikologis menjadi (lebih) mampu memposisikan diri dalam hubungannya dengan Al Khalik beserta seluruh ciptaanya berupa alam semesta beserta seluruh isinya, terbebas dari perasaan cemas, perasaan tertekan maupun sindroma pasca penguasa (Post-power syndrome) pada umumnya; dan secara sosiologis menjadi (lebih) mampu bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya sehingga senantiasa secara timbal balik dapat menyumbangkan dan memperoleh manfaat dari pengetahuan dan kegiatan hidupnya. Meningkatnya kemampuan mandiri dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologis ini berarti meningkatnya kemampuan dan kualitas hidup yang berarti meningkatnya kesejahteraan hidup!
Apakah olahraga bermudarat?
Maha suci Allah yang telah menciptakan serba berpasangan segala sesuatu yang digelar-tumbuhkan dimuka bumi, baik yang berupa tumbuh-tumbuhan, diri mereka sendiri maupun apa-apa yang mereka tidak tahu (Q.S.Yaasin-36).
Ayat tersebut di atas adalah jawaban bagi pertanyaan yang menjadi sub judul tersebut di atas dan perkataan olahraga tersebut diatas dapat diganti dengan bermacam-macam kata benda lain misalnya : Apakah pesawat terbang, mobil, bus, kapal dsb.,dsb. berbahaya? Nah untuk pertanyaan-pertanyaan yang terakhir itu para Pembaca pasti sudah tahu apa jawabannya! Tetapi apakah karena adanya aspek mudarat dari benda-benda tersebut apakah lalu benda-benda tersebut dilarang digunakan oleh manusia? Sama sekali tidak! Mengapa? Karena manfaatnya jauh dan bahkan sangat jauh melebihi mudaratnya! Demikian pula halnya dengan olahraga! Walaupun sekali-sekali terjadi kematian mendadak sewaktu orang melakukan olahraga, tetapi masih tetap sangat banyak orang yang melakukan olahraga! Mengapa? Karena mereka memahami dan meyakini benar manfaat olahraga ! Bahkan orang yang meninggal sewaktu berolahraga adalah orang yang sangat berbahagia dan secara pribadi ia adalah orang dapat sangat membahagiakan keluarganya ! Mengapa? Karena : (1) Sampai akhir hayatnya ybs masih dapat berolahraga dan tidak harus terlebih dahulu menderita sakit berkepanjangan yang akan menjadi beban bagi keluarganya secara fisik dan mental, (2) Tidak perlu menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit, sehingga seluruh harta sepenuhnya ditinggalkan bagi keluarga yang dicintainya tanpa sedikitpun menggunakannya bagi dirinya sendiri ! Hal ini adalah juga merupakan penjelasan dari hukum Allah yang telah menciptakan Alam berserta isi dan segala permasalahannya secara serba berpasangan, yaitu bahwa untuk segala sesuatu yang bersifat manfaat atau mudarat, selalu ada ujung lain yang bersifat kebalikannya !
Kematian mendadak bahkan pernah terjadi pada orang yang sedang shalat, baik dirumah maupun di masjid; orang yang sedang membaca koran, orang yang sedang tidur, orang yang sedang duduk di bus dalam perjalanan, dsb., dsb., yang kesemuanyan menunjukkan bahwa kematian mendadak dapat terjadi dalam keadaan apapun, termasuk pada saat orang melakukan olahraga. Jadi orang yang meninggal di saat melakukan olahraga, sama sekali tidak perlu dikaitkan atau berkaitan dengan olahraga yang sedang dilakukan.
Saat dan cara seseorang meninggal adalah ketentuan Allah, namun manusia perlu mengetahui apa-apa yang dapat menyebabkan terjadinya kematian mendadak, khususnya bagaimana hubungannya dengan olahraga, karena Allah dapat mengubah ketentuanNya dalam rangka mengabulkan orang-orang yang khusyu dalam doanya, doa yang diwujudkannya dalam upaya nyata yaitu melakukan olahraga kesehatan.
Fenomena perjalanan fungsional sistema Kardio-vaskular (Sistem Jantung dan Pembuluh darah)
Fenomena perjalanan fungsional sistema Kardio-vaskular berkaitan dengan pertambahan usia dan tercermin dalam gambar bagan seperti tercantum di bawah ini (McGill,Jr.,H.C.-1987). Artinya fenomena itu merupakan salah satu perwujudan proses penuaan, dan oleh karena itu terjadi pada semua orang. Tetapi mengapa terjadi perbedaan antara satu dengan orang lain? Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai faktor yang terdiri dari : (1) Faktor-faktor yang tidak dapat dicegah atau dihindari, (2) Faktor-faktor yang masih dapat dicegah atau dihindari.
Kaplan (1982) membagi faktor-faktor yang masih dapat dihindari ini menjadi dua bagian yaitu : (a) Faktor-faktor risiko utama (major risk factors) dan (b) Faktor-faktor risiko tambahan (minor risk factors). Ketiga faktor risiko/ predisposisi yang tidak dapat dicegah/ dihindari yaitu :
1. Keturunan : Bila dalam jalur keluarga ditemukan adanya penyakit Kardio-vaskular (tekanan darah tinggi, serangan jantung dan stroke), maka hal itu sangat mungkin dapat terjadi pada anggota-anggota keluarga yang lain dalam jalur keturunan itu.
2. Jenis kelamin : Pria khususnya pada usia mapan jabatan (+ 40-55 th) mempunyai risiko yang lebih besar untuk terjadinya penyakit kardio-vaskular dari pada wanita.
3. Pertambahan usia : Semakin bertambah usia seseorang, semakin bertambah risiko untuk terjadinya penyakit kardio-vaskular.
Pembagian Kaplan terhadap faktor-faktor risiko yang masih dapat dihindari adalah sebagai berikut :
- faktor risiko major (utama) yang terdiri dari tiga hal yaitu :
• merokok
• hypercholesterolaemia (kolesterol tinggi dalam darah)
• hypertensi. (tekanan darah tinggi)
- faktor risiko minor terdiri dari:
• inaktivitas fisik (ketiadaan olahraga)
• obesitas (kegemukan)
• diabetes
• bentuk kepribadian
• penggunaan estrogen
• kebanyakan minum alkohol
• kenaikan kadar asam urat
Bagan Kaplan
Gambar skema perkembangan atherosclerosis dan kaitannya dengan gejala klinik. (Dikutip dari McGill,Jr.,H.C.(1987): The Cardiovascular pathology of smoking. Supplement to American Heart Journal, The C.V.Mosby Co., St.Louis, MD 63146 USA)
Dari gambar bagan tersebut di atas terlihat bahwa episode klinis terjadi terutama antara umur 40-50 tahun dan dapat terjadi lebih cepat atau lebih lambat, tergantung dari faktor-faktor yang telah diuraikan di atas. Yang sangat perlu difahami adalah bahwa olahraga berat dapat menjadi pemicu terjadinya episode klinis yang dapat berwujud sebagai serangan jantung atau stroke yang mematikan, namun hal itu hanya mungkin terjadi pada orang-orang yang telah mengalami penyempitan pembuluh darah yang telah mencapai stadium kritis. Yang juga sangat perlu pula difahami adalah bahwa apakah seseorang telah masuk pada olahraga berat atau belum, bersifat sangat individual, dan hal demikian umumnya terjadi pada cabang-cabang olahraga permainan misalnya tennis dan bulutangkis, karena pada cabang-cabang olahraga demikian sangat mungkin terjadi pembangkitan emosi (emotional arousal) yang tidak terkendali yaitu apabila seseorang ingin memenangkan permainan itu, apa lagi bila disertai taruhan walaupun hanya taruhan semangkok bakso ! Oleh karena itu Olahrga Kesehatan merupakan bentuk olahraga yang paling aman bagi pembinaan kesehatan.
Walaupun inaktivitas (ketiadaan gerak/olahraga) hanya merupakan faktor risiko minor bagi kejadian penyakit kardio-vaskular, tetapi meniadakan faktor ini dengan melakukan aktivitas fisik (olahraga kesehatan) menghasilikan manfaat yang sangat besar karena olahraga kesehatan:
• merupakan upaya pencegahan dan rehabilitasi yang sangat fisiologis, mudah, murah, meriah dan massaal;
• dapat memperkecil pengaruh faktor-faktor risiko lain termasuk dua faktor risiko utamanya (kecuali merokok), dibandingkan dengan bila orang itu tidak melakukan olahraga kesehatan (Or-Kes),
• dapat menjangkau aspek rokhani dan aspek sosial untuk menuju derajat sehat yang lebih tinggi sesuai batasan sehat WHO.
Olahraga Kesehatan sebagai sarana pencegahan dan rehabilitasi perlu difahami secara mendalam oleh karena manfaat dan keamanannya berhubungan erat dengan intensitas pelaksanaannya.
Ringkasan
* Sehat dan Kesehatan.
• Sehat merupakan nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan dasar bagi segala kemampuan, karena itu perlu selalu disyukuri.
• Memelihara dan meningkatkan kesehatan hakekatnya adalah mensyukuri nikmat sehat karunia Allah : cara terpenting, termurah dan fungsional (fisiologis) adalah Olahraga Kesehatan.
• Acuan Sehat adalah Sehat Paripurna dari Organisasi Kesehatan Dunia yaitu Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan.
* Olahraga – Gerak :
• Gerak adalah ciri kehidupan.
• Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup.
• Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup.
• Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak, yang berarti meningkatkan kualitas hidup.
• Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.
• Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga.
* Olahraga Kesehatan :
• Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik untuk menjalani kehidupan sehari-hari, harus dilakukan dengan santai dan tanpa beban-beban emosional.
• Tujuan: Meningkatkan derajat kesehatan dinamis yaitu sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari (kemandirian dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologik), bukan untuk tujuan prestasi.
• Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), efisien, adekuat, mudah, murah, meriah, massaal, fisiologis (bermanfaat & aman).
• Massaal : – Ajang silaturahim ( Sejahtera Rohani dan Sosial
– Ajang pencerahan stress ( Sejahtera Rohani
– Ajang komunikasi sosial ( Sejahtera Sosial
Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO yaitu Sejahtera Paripurna.
* Kondisi Pemahaman Olahraga saat ini.
• Waktu : Olahraga masih banyak diartikan sebagai kegiatan yang memerlukan banyak waktu, sehingga orang-orang yang sangat sibuk akan menganggap kegiatan olahraga sebagai membuang-buang waktu.
• Olahraga masih banyak diartikan sebagai olahraga kecabangan dan dikaitkan dengan sarana dan prasarana yang mahal, sehingga menyebabkan pelaksanaannya mengalami banyak hambatan.
• Olahraga Kesehatan : masih banyak yang belum memahami arti, manfaat dan tata-laksananya, sehingga masih lebih banyak orang yang memilih olahraga permainan kecabangan yang dampak risikonya lebih besar.
Bandung, 17 Agustus 2005

Selasa, 14 Agustus 2012

CEDERA OLAH RAGA Lumayanan untuk nambah nambah ilmu



PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Olahraga erat kaitannya dengan cidera, seperti yang dialami oleh salah satu pemain sepak bola ( Millard). Millard mengalami cidera lutut yang sangat serius karena takel dari lawan, ini terjadi di awal musim sepak bola. Pada saat mengalami cidera Millard berpikir atau merasa karirnya di dunia sepak bola telah berakhir, tidak mau makan dan pada saat mendapat kunjungan dari tim lawan yang menekelnya, Millard menolaknya. Millard pun pulih dan bermain lagi, tetapi reaksi setelah pulih memperlihatkan bahwa Millard terluka secara psikologis. Cidera yang dialami oleh Millard ini dapat dialami oleh semua atlet, olahragawan, atau penari atau bahkan pelatih olahraga.
Faktor fisik merupakan penyebab utama cidera olahraga, tetapi faktor psikologis juga dapa berkontribusi. Faktor psikjologis mempunyai peran penting dalam masa rehabilitasi cidera. Dengan demikian perlu dipahami reaksipsikologis cidera dan cara-cara memfasilitasi masa pemulihan. Selain faktor fisik yang dapat menyebabkan cidera yaitu stres, adanya kompetisi, penampilan yang buruk, hal ini tergantung atlet dalam melihat situasi ini. Adanya kecemasan juga dapat membuat cidera, kecemasan dapat merubah focus atau perhatian dan ketegangan otot. Faktor psikologis tidak hanya stres yang dapat menyebabkan cidera, faktor kepribadian, riwayat stres, dan semua faktor yang mempengaruhi proses stres, yang kemungkinannya dapat menyebabkan cidera.
B.   Rumusan Masalah
1. Bagaimana cidera terjadi?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi cidera?
3. Bagaimana reaksi psikologis atlet yang mengalami cidera?
4. Bagaimana peran psikologi olahraga selama masa rehabilitasi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagai mana cidera terjadi
Faktor fisik sepeti, ketidak seimbangan otot, benturan dengan kecepatan tinggi, overtraining, dan kelelahan fisik. Adalah penyebab utama terjadinya cidra dalam latihan dan olahraga. Bagaimana pun juga faktor psikologi juga mempunyai peran seperti. Telah di identifikasi oleh Rotela dan teman-teman, faktor kepribadian, level stress dan beberapa sikap tertentu adalah penyebab terjadinya cidera. Sebuah penelitian terbaru, hampir 18 % waktu hilang karena masalah cidera.
1.    Faktor kepribadian
Faktor kepribadian adalah faktor yang pertama yang berhubungan cidera atlet. Para peneliti ingin memahami apakah konsep diri, pengaruh dari dalam-luar dan berpikir keras sangat berhungn dengan cidera. Atlet yang mempunyai konsep diri yang rendah mudah terjadi cidera dibandingkan yang mempunyai konsep diri tinggi. Penelitian terbaru menunjukan bahwa faktor pesonaliti seperti optimisme, percaya diri, ketabahan dan kecemasan berperan dalam cidera atlet.
2.    Tikatan Stress
Tikatan stress telah diidentifikasi juga berperan penting dalam cidera atlet. Penelitian telah membuktikan hubungan antara tekanan hidup dan tingkat cidera. Pengukuran tingkat stres ini di fokuskan pada perubahan hidup,contohnya putus cinta, pindah ke kota baru, menikah atau perubahan status ekonomi. Secara keseluruhan bukti-bukti menunjkan bahwa atlet dengan pengalaman tekanan hidup yang lebih tinggi lebih sering cidera dibandingkan atlet dengan tekanan hidup yang lebih rendah. Sebaiknya para instruktur profesional sebaiknya memahami perubahan ini, secara hati-hati memonitor dan memberikan pelatihan hidup secara psikologis.
Penelitian juga telah mengidentifikasi stress muncul pada atlet ketika cidera dan ketika di rehabiitasi saat cidera. Contohnya kurannya perhatian, terisolasi. Teknik management pelatihan stress tidak hanya menolong atlet dan instrutur lebih efektif secara penampilan tetapi juga mungkin menghindari resiko mereka cidera dan sakit.
B.   Hubungan antara Stress dan Cidera
Ada dua teori yang akan menjelaskan hubungan antara stress dan cidera.
1. Perhatian yang tergangu
Satu hal yang pasti adalah bahwa stress akan mengangu perhatian seorang atlit denga kurangnya perhatian dari sekelilingnya. Contohnya seorang quaterback dibawah tekanan stress berkemungkinan cidera karena dia tidak melihat pemain bertahan lainnya berlari di depanya sehingga off side. Ketika tingkataan stressnya lebih rendah, seorang quarterback akan mempunyai lapangan yang lebih luas dari perhatian sekelilingnya dan dapat melihat pemain bertahan lainnya dan mengurangi resiko cidera
Telah ditemukan juga bahwa peningkatan tingkat kecemasan disebabkan oleh pikiran, contohnya seorang eksekutif yang melakukan joging pada saat makan siang setelah bertengkar dengan teman sejawatnya berkemungkinan untuk terpelosok ke dalam lubang atau kena cedera keseleo pergelangan kaki.
2. Ketegangan Otot
Stress tingkat tinggi dapat timbul bersamaan dengan ketegangan otot yang bertentangan dengan kondisi normal dan meningkatkan peluag untuk cidera. Guru dan pelatih yang berkerja dengan seorang atlet yang kehidupannya mengalami perubahan (seorang siswa yang orang tuanya bercerai), sebaiknya sangat memperhatikan sikap atlit tersebut , jika menunjukan tanda-tanda ketegangan otot atau sulit untuk fokus ketika tampil, adalah hal yang bijak diberikan pelatihan stress.
Psikologi yang lain pejelasan tentang cidera.
Hal lain yang menyebabkan stress menurut ahli psikologi adalah beberapa sikap para pelatih, seperti “act tough and always give 110% atau “jangan menerima apa adanya dan selalu memberikan 110%” jika kamu cidera kamu tidak berharga, sikap-sikap ini berkemungkinan menyebabkan atlet cidera.
1. Act Tough and give 110%
Semboyan atau slogan seperti berusaha keras atau pulang, tidak sakit tidak ada penghargaan, pergi untuk bertempur adalah ucapan-ucapan pelatih untuk menyemangati. Para pelatih memaksa atlit-atlit meraka bekerja keras atau selalu mengambil resiko. Seharusnya kata-kata ini tidak ditekankan terlalu sering, sehingga atlet siap mengambil resiko, seperti menekel lawan dalam sepakbola sehingga terjadi cidera.
2. Jika kamu cidera kamu tidak berharga
Beberapa orang merasa tidak berharga ketika mereka terluka, sikap ini berkembang melalui beberapa hal. Pelatih boleh menyampaikan, menyadarkan bahwa menang adalah lebih penting di bandingkan kesejahteraan atlet. Ketika seorang pemain atau atlet cidera, tidak memberikan kontribusi untuk menang. Atlet yang cidera terkadang bernmain sehingga cideranya semakin parah.
C. Reaksi psikologis atlet yang cidera
Cidera tidak dapat di pisahkan dari aktifitas fisik, meski pun memiliki staf yang baik, peralatan yang lengkap, resiko cidera tidak dapat di pisahkan. Ahli psikologi, pelatih atlet mengidentifikasi beberapa reaksi psikologis akibat cidera. Cidera dapat diartikan sebagai waktu untuk istirahat dari aktifitas latihan. Olahragawaan dan instruktur kebugaran harus mengamati beberapa respon/tangapan dari cidera.
1. Tanggapan emosioanal
Reaksi pertama atlet yang mengalami cidera digambarkan seperti akan menghadapi kematian. Setelah itu megalami reaksi kesedihan yang ditandai dengan lima tahapan kesedihan:
· Penolakan
· Kemarahan
· Untung atau tidak (menawar)
· Depresi
· Menerima dan menyusun lagi
Atlit yang mengalami cidera menunjukan reaksi kesedihan, sebagai reaksi emosional, akan tetapi terkadang tidak mengikuti atau sesuai tahapan di atas. Berikut tiga reaksi secara umum atlit yang mengalami cidera
· Pengolahan informasi relevan cidera
Atlet yang cidera fokus pada informasi yang terkait dengan cideranya, kesadaran tingkat cidera, bagai mana cidera itu terjadi dan konsekuesi negative atau ketidak nyamanan
· Pergolakan emosi dan perilaku reaktif
Atlet menyadari bahwa dia cidera, menjadi gelisah, bimbang, merasa emosional, terisolasi dan merasa shock, tidak percaya, menolak dan merasa kasihan/mengkasihani diri sendiri.
· Harapan positif dan penerimaan
Atlet menerima cidera akan memiliki sikap yang baik dan optimis. Penerimaan atas kondisi cidera ini masing-masing atlet bervariasi, ada yang dalam sehari dan ada yang berminggu-minggu atau bahkan beberapa bulan.
2. Tanggapan yang lain atau reaksi lain
Reaksi tambahan psikologis atlet yang mengalami cidera, antara lain
· Kehilangan identitas.
Beberapa atlet yang tidak dapat berpartisipasi karena cidera kehilangan identitas pribadi. Artinya, bagian penting dari diri mereka hilang, dan mempengaruhi kosep diri.
· Ketakutan dan kecemasan
Ketika cidera, banyak atlet mengalami ketakutan dan kecemasan tingkat tinggi. Mereka kawatir apakah mereka akan pulih, apakah akan kembali cidera, apakah seseorang yang mengatikan mereka permanen dalam lineup. Karena atlet tidak bisa berlatih dan bersaing, ada banyak waktu untuk kawatir.
· Kurangnya kepercayaan diri.
Mengingat ketidak mampuan untuk berlatih dan bersaing, dan status memburuk fisik mereka, atlet kehilangan kepercayaan setelah cidera. Menurunnya kepercayaan dapat berakibat penurunan motivasi, penurunan penampilan, atau cidera bertambah jika atlet berlebihan (kurang kepercayaan).
· Penurunan penampilan.
Karena penurunan kepercayaan dan kehilangan waktu latihan, atlet mengalami penurunan penampilan. Banyak atlet mengalami kesulitan menurunnya harapan setelah cidera dan mungkin berharap untuk kembali ke level penampilan sebelum cidera.
3. Tanda saat cidera
Tangapan orang (atlet) pada saat cidera menunjukan emosi negatif, namun mereka tidak kesulitan dalam menghadapinya. Berikut tanda emosional atlet pada saat cidera.
· Perasaan marah dan kebingungan
· Obsesi dengan pertanyaan tentang kapan bisa kembali bermain
· Penolakan (misal, cidera adalah bukan masalah besar)
· Ingin segera kembali dan megalami sebelum cidera
· Berkata berlebihan tentang keberhasilan
· Mengeluh
· Merasa bersalah membiarkan tim terpuruk
· Menarik diri dri orang lain
· Cepat berubah suasana hati
· Pernyataan yang menunjukan bahwa tidak peduli apa yang dilakukan, pemulihan tidak akan terjadi
Seorang instruktur kebugaran dan pelatih yang megetahui gejala-gejala ini harus menyarankan untuk di diskusikan ke psikolog olahraga atau konselor. Dalam hal ini bila ada rekasi tidak normal akibat cidera sebaiknya di rujuk ke psikolog olahraga.
D. Peran psikologi olahraga dalam cidera dan rehabilitasi
Pemulihan secara aktif, tidak adanya oprasi dan latihan beban untuk rehabilitasi adalah salah satu kemajuan dalam rehabilitasi. Psikolog memfasilitasi proses pemulihan cidera, dan pelatih/instruktur lebih mengunakan pendekatan holistic untuk menyembuhkan baik pikiran dan fisik. Memahami psikologi pemulihan cidera adalah sangat penting bagi semua yang terlibat dalam olahraga dan latihan.
1. Pemulihan Psikologi
Peneliti melakukan wawancara, menilai sikap dan pandangan, stress dan control stress, dukungan sosial, positif self-talk, imajinasi penyembuhan, penetapan tujuan dan keyakinan. Mereka menemukan bahwa atlet penyembuhan lebih cepat yang lebih mempunyai tujuan dan positif self talk dan, pada tingkat yang lebih rendah lebih lambat penyembuhannya. Selain itu faktor yang penting dalam proses rehabilitrasi adalah emosi dan motivasi atlet selama masa rehabilitasi. Atlet yang mempunyai emosi yang baik dalam hal ini mematuhi peraturan medis selama proses penyembuhan akan dapat mempercepat proses penyembuhan, motivasi atlet selama proses rehabilitasi juga mempengaruhi keberhasilan pemulihan.
Penerapan perlakuan dan pemulihan cidera
Pendekatan holistic adalah yang disarankan oleh ahli psikologi untuk pemulihan cidera atlet. Berikut langkah-langkah proses penyembuhan dan pemulihan secara psikologi.
1) Tahap cidera-penyakit
Membantu atlet menghadapi pergolakan emosi pada saat cidera.
2) Tahap rehabilitasi dan pemulihan
Membantu atlet mempertahankan motivasi dan kepatuhan terhadap aturan rehabilitasi
3) Tahap kembali ke aktifitas penuh
Kesembuhan penuh tidaklah lengkap sampai atlet kembali ke keadaan normal dalam olahraganya.
Di awal cidera atau fase penyakit, yang harus dilakukan adalah focus pada membantu menangani pergolakan emosi atlet yang cidera. Atlet mengalami kondisi stress karena tidak memahami cidera atau kondisi cidera, sehingga dokter perlu member penjelasamn kaitannya dengan seberapa parah cideranya. Tahap rehabilitasi dan pemulihan, pada tahapan ini atlet yang mengalami cidera dibantu dalam mempertahankan motivasi, dan aturan rehabilitasi. Penetapan tujuan dan mempertahankan sikap positif, terutama pada saat cidera atau kemunduran fisik. Tahap terakhir adalah kembali pada aktifitas penuh,meskipun secara fisik atlet sudah sembuh, kesembuhan belum lengkap sampai dia kembali kondisi normal dalam berolahraga. Selain itu ada beberapa hal penting yang harus dipahami, memfasilitasi proses rehabilitasi, membangun hubungan dengan atlet yang cidera, mendidik atlet tentang proses dan pemulihan cidera, mengajarkan ketrampilan psikologis, mempersiapkan atlet untuk mengatasi kemunduran, membina dukungan sosial, dan belajar atau mendorong atlet untuk belajar dari atlet lain yang cidera.
2. Membangun hubungan dengan atlet cidera
Ketika atlet cidera, mereka sering mengalami tidak percaya, frustasi, kemarahan, kebingungan, dan kerentanan. Emosi tersebut dapat menyulitkan bagi penolong untuk menjalin hubungan dengan yang cidera. Empati adalah membantu, memahami bagaimana perasaan orang yang cidera. Membangun hubungan, jangan terlalu memberi harapan dengan pemulihan cepat. Sebaiknya, bersikap positif dan pendekatan tim untuk pemulihan. Jadi perlunya kebersamaan dalam proses penyembuhan, sehingga atlet lebih termotivasi dan mempunyai pikiran positif.
3. Mendidik atlet yang cidera tentang proses dan pemulihan cidera.
Atlet yang cidera atau pertama kali cidera, biasanya belum paham tentang apa yang terjadi pada dirinya. Memberikan pemahaman secara praktis dapat membantu atlet memahami cidera, misalkan atlet gulat cidera patah tulang, seorang pelatih member penjelasan dengan sebuah tongkat yang di patahkan menyerupai apa yang terjadi pada atlet. Secara tidak langsung atlet memahami apa yang terjadi atau kondisi pada dirinya sendiri. Selain itu perlu dijelaskan pada atlet yang cidera waktu kesembuhannya, misalkan dalam waktu 3 bulan sembuh atau pulih, tidak boleh di katakan atau di jelaskan dalam 1 bulan sembuh atau pulih, karena hal ini dapat berdampak pada sikap atlet dan dapat menyebabkan kemunduran pemulihan.
4. Mengajar ketrampilan psikologis tertentu
Ketrampilan psikologis sangat penting untuk diajarkan untuk rehabilitasi kaitannya dengan penetapan tujuan, positif self-talk, imagery/visualisasi dan pelatihan relaksasi. Penetapan tujuan dapat sangat berguna untuk rehabilitasi atlet yang cidera. Penetapan tujuan dapat mengurangi waktu pemulihan atlet yang cidera. Penetapan tujuan ini kaitanya dengan kapan atlet akan kembali ke kompetisi, berapa kali perminggu untuk terapi, bentuk latihan dan lama latihan. Motivasi yang berlebih dapat menyebabkan cidera selama masa terapi, karena aktifitasnya tidak sesui aturan atau melebihi kemampuan atlet.
Self-talk atau kata hati membantu mengatasi kepercayaan yang turun selama cidera. Atlet harus belajar menghilangkan pikiran negatif mereka, dan mengantinya dengan yang realistis dan positif. Misalkan saya tidak akan pernah menjadi baik, di rubah menjadi aku merasa kecewa hari ini, tapi aku masih pada tujuan rehabilitasi, saya hanya perlu bersabar dan saya akan kembali.
Visualisasi berguna selama masa rehabilitasi. Pemain atau atlet yang cidera perlu mengimajinasikan diri mereka dalam kompetisi, atau kembali berkompetisi. Atau atlet yang cidera ototnya mengimajinasikan ototnya pulih dengan cepat. Hal ini dapat mempercepat proses rehabilitasi atlet tersebut. Jadi, mereka yang membantu dalam proses rehabilitasi cidera perlu mendorong atlet berimajinasi ketika mereka berpartisipasi/kompetisi dalam olahraga meraka.
Pelatihan relaksasi dapat berguna untuk menghilangkan rasa sakit dan stress, yang biasanya menyertai pada saat cidera dan pemulihan cidera. Atlet juga dapat mengunakan teknik relaksasi untuk memudahkan tidur dan mengurangi ketegangan.
5. Mengajarkan bagaimana mengatasi kemunduran
Rehabilitasi cidera bukan ilmu yang pasti. Setiap orang pulih pada tingkat yang berbeda, dan kemunduran hal yang biasa. Jadi, orang atau atlet yang cidera perlu belajar mengatasi kemunduran. Memberikan informasi pada atlet selama tahapan rehabilitasi terjadi kemunduran, dan pada saat yang sama mendorong atlet untuk mempertahankan sikap positif. Kemunduran adalah normal dan tidak perlu panic, jadi tidak perlu berkecil hati. Dengan demikian sasaran rehabilitasi perlu untuk dievaluasi dan didefiniskan ulang secara berkala.
6. Memupuk dukungan sosial
Dukungan sosial sangat penting untuk atlet yang mengalami cidera. Dukungan sosial ini misalkan,dukungan emosional dari teman-teman dan orang-orang terkasih, dukungan informasi dari pelatih, dalam bentuk peryataan seperti “anda berada di jalur yang benar”, dan bahkan dukungan nyata, seperti uang dari orang tua. Akan tetapi dukungan sosial ini cenderung pada saat atlet terkena cidera dan menjadi kurang saat masa pemulihan atau recovery. Berikut petunjuk pemberian dukungan sosial:
· Dukungan sosial sebagai suberdaya yang memfasilitasi. Hal ini dapat mengurangi stres, meningkatkan mood, meningkatkan motivasi untuk rehabilitasi, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan. Dengan demikian, upaya-upaya harus dilakukan untuk memberikan dukungan sosial kepada atlet yang cidera.
· Secara umum, atlit beralih ke pelatih dan medis untuk dukungan informasi dan keluarga dan teman untuk dukungan emosional.
· Jenis dukungan sosial yang dibutuhkan atlet bervariasi di setiap tahap rehabilitasi. Sebagai contoh di fase cidera, dukungan informasi sangat penting, sehingga atlet jelas dan memahami cidera yang dialami. Pada tahap pemulihan diperlukan pelatih yang dapat membantu memotivasi dan mematuhi rencana rehabilitasi.
· Kebutuhan dukungan sosial terbesar pada saat proses rehabilitasi lambat, ketika terjadi kemunduran, atau adanya tuntutan hidup lain kaitannya dengan stress.
· Meskipun umumnya membantu, dukungan sosial dapat memiliki efek negatif terhadap atlet yang cidera. Hal ini terjadi dimana penyedia dukungan tidak memiliki hubungan yang baik dengan atlet, tidak memiliki kredibiltas di mata atlet, atau dukungan keterpaksaan dari atlet lain. Atlet melihat dukungan sosial bermanfaat ketika jenis dukungan sesuai dengan kebutuhan mereka dan penyampaian informasi yang baik bagi mereka.
7. Belajar dari atlet yang pernah cidera
Cara lain yang baik untuk membantu atlet yang cidera dalam mengatasi cidera adalah dengan memperhatikan atau mematuhi rekomendasi atlet yang pernah cidera. Berikut rekomendasi dari atlet SKI AS, untuk atlet yang cidera, pelatih, dan tim medis olahraga
1) Rekomendasi untuk atlet yang cidera
· Mepelajari badannya dan menyesuiakan diri
· Terima dan secara positif menghadapi situasi
· Fokus pada pelatihan yang berkualitas
· Mendapatkan dan mengunakan sumber daya medis
· Mengunakan sumber daya sosial bijaksana
· Menetapkan tujuan
· Merasa yakin dengan pelatih dan tenaga medis
· Melatih ketrampilan mental
· Mengunakan imajinasi
· Dan menjaga suasana yang kompetitif dan keterlibatan.
2) Rekomendasi untuk Pelatih
· Pelatih memelihara kontak dan keterlibtan dengan atlet yang cidera
· Menunjukan empati positif dan dukungan
· Memahami variasi cidera individu dan emosi saat cidera
· Motivasi dan mendorong secara optimal
· Lingkungan yang berkualitas tinggi, pelatihan individual
· Memiliki kesabaran dan harapan yang realistis
· Jangan mengulangi menyingung cidera pada saat pelatihan
3) Rekomendasi untuk medis olahraga
· Mendidik dan menginformasikan atlet pada saat cidera dan rehabilitasi
· Mengunakan motivasi sesuai dan secara optimal mendorong
· Menunjukan empati dan dukungan
· Memiliki kepribadian yang mendukung (menjadi hangat, terbuka, dan tidak terlalu percaya diri)
· Memelihara interaksi yang baik dan menyesuaikan pelatihan
· Menunjukan kemampuan dan kepercayaan diri
· Mendorong kepercayaan diri atlet